Box Breaker Hosting

You are hereBlogs / roemasa's blog / Kapal Selam Menembus Dalamnya Lautan Artik

Kapal Selam Menembus Dalamnya Lautan Artik


By roemasa - Posted on 29 August 2008

Kapal Selam Dalam beberapa tahun mendatang, lapisan es abadi Artik mungkin sudah tiada. Kabar buruk bagi beruang kutub teman-temannya itu ternyata membuka peluang menarik bagi lima negara di sekitarnya, Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Denmark, dan Norwegia.

Melelehnya lapisan es abadi di Laut Artik adalah kesempatan bagi mereka melakukan eksplorasi karena 25 persen cadangan minyak dunia diperkirakan tersimpan di dasar laut kutub itu. Hilangnya es tersebut juga membuka akses ke jalur-jalur pelayaran baru dan sumber daya alam seperti gas dan mineral berharga.

Yang jadi masalah cuma satu, bagaimana mereka bisa mengklaim area tak bertuan itu untuk menguasai semua kekayaan yang terpendam di dalamnya. Agar bisa diakui sebagai pemilik berdaulat dan mendapat persetujuan PBB, setiap negara harus bisa membuktikan bahwa bubungan yang ada di dasar laut Artik itu adalah bagian dari landas kontinen yang dimilikinya.

Peluang merajai cadangan bahan bakar fosil yang kian langka inilah yang membuat riset dan eksplorasi lantai laut dalam menjadi teramat penting. Ini menjadi salah satu pertimbangan bagi Amerika Serikat membuat kapal selam baru, yang mampu menyelam ribuan meter lebih dalam menggantikan Alvin, kapal selam berawaknya yang akan pensiun dua tahun lagi.

Alvin sudah 40 tahun membantu lebih dari 8.000 peneliti melakukan riset di laut dalam. Berkat dialah, bentuk kehidupan baru di gelapnya laut dalam sampai 4500 meter bisa ditemukan dan teori lempeng tektonik bisa dikonfirmasi.

Sebagai penerus Alvin, Dewan Riset Nasional Amerika Serikat merekomendasikan pembuatan kapal selam berawak baru yang lebih canggih sebagai bagian dari seperangkat alat bantu riset samudera, termasuk kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) dan kendaraan bawah air otonom (AUV). "Sebagian besar dasar laut belum tereksplorasi, padahal ini adalah salah satu lingkungan yang paling menarik di planet kita," kata Arden Bement, pejabat direktur di National Science Foundation, penyandang dana proyek kapal selam baru itu.

Kapal selam baru tersebut, kata Bement, akan menjadi kapal utama dalam tahap eksplorasi laut dalam berikutnya. "Banyak penemuan menarik lainnya menanti pada dekade berikutnya," katanya.

Kendaraan pengganti ini nantinya mampu menggapai lebih dari 99 persen lantai laut di kedalaman 6500 meter dan melakukan proyek riset dalam skala lebih luas di seluruh dunia. Pada Agustus 2008 ini, proses upgrading Alvin tahap pertama selesai.

Proyek desain dan konstruksi selama empat tahun itu diperkirakan menyedot dana Rp 200,2 miliar. National Science Foundation, bekerjasama dengan Woods Hole Ocenographic Institution (WHOI) akan menanggung sebagian besar biaya itu.

Desain kapal selam pengganti Alvin adalah hasil diskusi dan masukan dari komunitas ilmiah selama lebih dari 10 tahun. Meskipun Alvin adalah kapal selam berawak pertamayang rutin digunakan menjelajahi laut dalam, kemampuannya sudah ketinggalan zaman bila dibandingkan dengan kapal selam berawak milik Jepang, Rusia dan Prancis.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, para ilmuwan di WHOI mengganti beberapa bagian Alvin, salah satunya bola bilik awak kapal. Khusus membuat bola titanium itu, WHOI melebur dua balok logam ringan yang sangat kuat itu, masing-masing seberat 7711 kilogram. Dua balok itu dilebur menjadi dua bola dalam proses yang memerlukan pemanasan tinggi dan tekanan berulang kali, dan disatukan kembali menjadi sebuah bola setebal 7,6 cm. Balok titanium lain seberat 3175 kilogram digunakan untuk membentuk jendela dan pintu masuk.

"Sumbangan Alvin bagi ilmu pengetahuan amat besar," kata Robert Gagosian, presiden dan direktur WHOI. "Alvin memungkinkan beberapa generasi ilmuwan memperoleh akses ke dunia yang tak terlihat sebelumnya, sekaligus memicu para insinyur menggapai batas kreativitasnya. Kendaraan pengganti ini didesain untuk meneruskan dan memperluas warisannya."

Selain menambah kemampuan menyelam 40 persen lebih dalam daripada Alvin, kendaraan baru ini juga memiliki kecepatan tenggelam yang lebih cepat, begitu pula kecepatannya maju.

Salah satu perbaikan yang amat ditunggu para ilmuwan adalah kemampuan pandang dan penerangan yang lebih baik bagi pilot dan dua pengamat karena kendaraan itu memiliki lima jendela. Dahulu, Alvin hanya memiliki tiga jendela tebal untuk tempat mengintip para awaknya. "Ini akan menjadi amat hebat," kata Cindy L. Van Dover, profesor biologi kelautan di Duke University, yang telah ratusan jam menyelam bersama Alvin.

Desain baru ini memberikan dua jendela yang menghadap ke arah depan bagi para ilmuwan. Itu amat kontras dengan jendela lama Alvin yang menghadap ke samping, hanya pilot yang bisa melihat ke depan. "Memandang ke depan bisa mengungkap sumber air panas yang dikerubuti bentuk kehidupan eksotik," katanya. "Kami juga bisa mengarahkan pilot dan melihat di mana dan bagaimana sampel diambil."

TJANDRA DEWI | WHOI| NYTIMES | UNOLS

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2008/08/28/brk,20080828-132732,i...



Tags